Sunday, December 7, 2014
Monday, November 10, 2014
Peresmian Griya Jati Rasa
Oleh Dian Pramudita S.Sos
(Divisi Riset dan Penerbitan dari
Griya Jati Rasa)
Diharapkan Dapat Mengembangkan Best Practice Desa Binaannya
Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Kreatifitas Bangsa Untuk
Keadilan. Griya Jati Rasa merupakan salah satu Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) yang dibentuk oleh sejumlah orang
dari kalangan akademisi, aktivis sosial, para seniman dan
pemerintah desa yang bergabung karena kesamaan visi dalam
pemberdayaan masyarakat pedesaan supaya siap menghadapi
globalisasi terkait dengan pengembangan masyarakat ekonomi
Asia tahun 2015.
Diharapkan Dapat Mengembangkan Best Practice Desa Binaannya
Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Kreatifitas Bangsa Untuk
Keadilan. Griya Jati Rasa merupakan salah satu Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) yang dibentuk oleh sejumlah orang
dari kalangan akademisi, aktivis sosial, para seniman dan
pemerintah desa yang bergabung karena kesamaan visi dalam
pemberdayaan masyarakat pedesaan supaya siap menghadapi
globalisasi terkait dengan pengembangan masyarakat ekonomi
Asia tahun 2015.
Peresmian / peluncuran Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan
Kreatifitas Bangsa Untuk Keadilan Griya Jati Rasa, ditandai
dengan penandatanganan Plakat oleh Ketua Forum Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) DIY, Beny Susanto S.Ag M.Si, dan
pemotongan tumpeng oleh Direktur Griya Jati Rasa, Farsijana
Adeney-Risakotta, Ph.D, di Pondok Tali Rasa, Jalan Dumung
nomor 100 Caturtunggal VIII, Karanggayam, Sleman, Sabtu (8/11) lalu.
Griya Jati Rasa memiliki lima desa (daerah) yang akan
menjadi proyek binaannya, masing-masing daerah merupakan
perwakilan dari kabupaten-kabupaten dan kota yang ada di
Provinsi DIY. Kelima daerah itu meliputi, Desa Caturtunggal,
Kecamatan Depok,
Sleman. Desa Panggungharjo, Kecamatan
Sewon, Bantul. Desa Kali Agung, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo.
Sewon, Bantul. Desa Kali Agung, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo.
Desa
Giri Cahyo, Kecamatan Purwosari, Gunungkidul dan
Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Jogja.
Kelima desa itu memiliki karakteristik dan keunggulan
masing-masing, beberapa diantaranya seperti Desa Giri Cahyo
diharapkan menjadi sentra desa mandiri produksi minyak
atsiri dan industri kimia produk hutan di pedesaan
pesisir. Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Jogja,
merupakan desa yang memenangkan perlombaan sampah mandiri
di seluruh DIY, diharapkan menjadi desa pariwisata yang
mandiri dan kreatif.
Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Jogja.
Kelima desa itu memiliki karakteristik dan keunggulan
masing-masing, beberapa diantaranya seperti Desa Giri Cahyo
diharapkan menjadi sentra desa mandiri produksi minyak
atsiri dan industri kimia produk hutan di pedesaan
pesisir. Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Jogja,
merupakan desa yang memenangkan perlombaan sampah mandiri
di seluruh DIY, diharapkan menjadi desa pariwisata yang
mandiri dan kreatif.
Ketua Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) DIY, Beny
Susanto S.Ag M.Si, berharap, agar nantinya Lembaga
Pengkajian dan Pemberdayaan Kreatifitas Bangsa Untuk
Keadilan yang bernama Griya Jati Rasa, dapat mengembangkan
Best Practice dari kelima desa (daerah) yang didampinginya
supaya dapat menjadi inspirasi daerah lain, khususnya di
Jogja dan Indonesia pada umumnya.
“Contoh Best Practice, pertama soal Good Governance di
desa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Sedangkan di Desa
Kaliagung, Sentolo Kulonprogo, bisa menjalin harmoni dan
kerja sama yang baik di tengah-tengah masyarakat,” Jelas
Beny Susanto di sela-sela acara peresmian.
Sementara itu Direktur Griya Jati Rasa
Farsijana
Adeney-Risakotta, Ph.D dalam press releasenya menyatakan
bahwa tujuan dari LSM ini yaitu untuk meningkatkan ekonomi
masyarakat secara berkelompok sehingga dapat berpartisipasi
dalam perdagangan yang adil secara
internasional. Mendorong kerjasama pihak swasta dalam
membangun pedesaan secara adil, partisipatif dan damai.
Mendorong kerjasama yang adil dan damai di antara suku dan
agama dari berbagai komponen masyarakat yang terlibat
melakukan kegiatan produksi yang berkualitas internasional.
Melakukan penelitian terkait dengan pengembangan sumber daya
alam dalam hubungannya dengan transformasi kerja, alat dan
produksi masyarakat yang mendorong pada keadilan sosial dan
perdamaian.Serta menciptakan kreatifitas dan inovasi potensi
sosial pedesaan.
Adeney-Risakotta, Ph.D dalam press releasenya menyatakan
bahwa tujuan dari LSM ini yaitu untuk meningkatkan ekonomi
masyarakat secara berkelompok sehingga dapat berpartisipasi
dalam perdagangan yang adil secara
internasional. Mendorong kerjasama pihak swasta dalam
membangun pedesaan secara adil, partisipatif dan damai.
Mendorong kerjasama yang adil dan damai di antara suku dan
agama dari berbagai komponen masyarakat yang terlibat
melakukan kegiatan produksi yang berkualitas internasional.
Melakukan penelitian terkait dengan pengembangan sumber daya
alam dalam hubungannya dengan transformasi kerja, alat dan
produksi masyarakat yang mendorong pada keadilan sosial dan
perdamaian.Serta menciptakan kreatifitas dan inovasi potensi
sosial pedesaan.
Sementara itu Sekretaris Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok,
Sleman, Aminudin Aziz S.Si, berharap dengan dijadikannya
Desa Caturtunggal sebagai desa binaan Griya Jati Rasa supaya
ada kegiatan-kegiatan positif yang bisa mengurangi hal-hal
negatif. “Program kegiatan, idealnya berkesinambungan,
tidak hanya sesaat,” jelasnya saat ditemui pada Peresmian
Griya Jati Rasa.
Puncak acara peresmian ini yaitu Pagelaran Wayang Kreatif
yang berjudul,“Geger Kunthi Bangun Kasatria
Pandowo”dengan Dhalang ‘Edan’ SitiMurkanti, sedangkan
sutradara dan penulis naskahnya Farsijana Adeney-Risakotta.
Penampilan Wayang kreatif ini perpaduan dari wayang kulit,
tayangan layar LCD, dan tarian, yang hanya berdurasi kurang
lebih satu jam.
Friday, October 17, 2014
Prospek Keadilan dan Perdamaian dari budidaya tanaman Nilam bagi petani di Desa Giri Cahyo, Purwosari, Gunung Kidul
Sarasehan
“ Prospek keadilan
dan perdamaian dari budidaya
tanaman Nilam bagi
petani di desa Giri
Cahyo, Purwosari, Gunung Kidul”
Latar
Belakang :
Petani adalah tulang punggung perekonomian
Indonesia.
Sekalipun demikian, petani
Indonesia belum
mengalami kesejahteraan karena
kemampuan pengolahan hasil
pertanian masih dilakukan
secara alamiah belum didukung
oleh suatu sistem produksi yang memberikan keuntungan kepada petani.
Petani karena keterbatasan pengetahuannya masih
mengandalkan produksi pertanian yang dijual ke pasar tanpa melalui proses pengolahan untuk
meningkatkan nilai jualnya. Misalkan petani
menjual bagian-bagian pohon
untuk bahan dasar pembangunan dan maupun
kayu bakar.
Padahal dalam lingkaran
kerja petani dan keluarganya, selain menyediakan pangan
kepada masyarakat, bisa juga melakukan
pengolahan hasil pertanian
dan kehutanan untuk menjadi
bahan dasar untuk industri kimia yang menghasil obat-obatan, balsem, minyak wangi, kosmetik,
makanan, pewarnaan
alamiah dan sebagainya.
Misalkan tanaman nilam
( bahasa Latin: Pogostemoncablin) adalah tanaman yang bisa diproses untuk
menghasilkan minyak Atsiri. Minyak Atsiri yang dihasilkan
dari hasil penyulingan daun dan
batang tanaman nilam bisa
digunakan sebagai bahan
dasar minyak wangi dan dupa. Tanaman nilam dan
banyak tanaman lainnya dapat
digolongkan sebagai bahan
baku bagi industri kimia.
Pemanfaatan lahan pertanian
secara efisien bisa memberikan
nilai tambah kepada petani. Selain menanam
pohon-pohon berkayu keras
untuk bahan produksi rumah, tanah pertanian
bisa ditanam dengan
tanaman budidaya bahan
baku industri kimia seperti
dijelaskan di atas. Selain itu, lingkaran
kerja keluarga petani sekaligus
bisa terlibat dalam
pengolahan sendiri tanaman
penghasil bahan baku
industri kimia. Misalkan dari
keluarga petani, orang tua terlibat
menanam, sedang anak-anaknya bekerja
untuk melakukan penyulingan tanaman
bahan industri kimia tersebut.
Peningkatan pengetahuan petani
tentang posisi, manfaatnya dalam proses produksi untuk mendorong upaya transformasi
pola berusaha yang berkeadilan kepada
semua segmen yang terlibat dalam lingkaran
industri kimia seperti
sudah dijelaskan di atas sangat penting
dilakukan.
Pemahaman yang benar dari petani tentang mekanisme produksi
ini akan memberikan motivasi kepadanya
untuk terlibat dalam menyiapkan
bahan dasar industri kimia sekaligus
mengatasi masalah pengangguran
intelektual yang mulai bertumbuh di
pedesaan.
Tujuan Umum:
Meningkatkan kesejahteraan kehidupan petani di desa Giri Cahyo melalui upaya budidaya tanaman nilam sebagai bahan dasar industri kimia.
Tujuan
Khusus:
- Menambah pengetahuan tentang industri kimia dalam kaitan dengan pengolahan pertanian.
- Menambah pengetahuan dan ketrampilan petani dan keluarganya untuk siap membudidayakan tanaman nilam.
- Mempersiapkan diri petani dalam membudidayakan tanaman nilam sebagai komponen industri kimia.
- Melindungi hak dan kewajiban petani mencapai keadilan dan perdamaian dalam merintis budidaya tanaman nilam untuk menopang bahan dasar industri kimia.
- Menambah pendapatan petani.
Hasil yang
diharapkan :
- Petani mengerti tentang proses produksi minyak Atsiri dari tanaman nilam.
- Petani terlibat dalam merencanakan penyediaan bahan baku bagi industri kimia dengan menentukan secara adil harga jual tanaman nilam sebelum diolah menjadi minyak Atsiri.
- Adanya kesepakatan tentang proses produksi tanaman nilam yang menguntungkan kepada petani.
Bentuk
Kegiatan :
Sarasehan
Judul Sarasehan:
“Prospek keadilan
dan perdamaian dari budidaya
tanaman Nilam bagi
petani di desa Giri Cahyo, Purwosari, Gunung Kidul”
Partisipan:
Jumlah: 55 – 60 orang terdiri dari:
1.Staf Pemerintah Desa Giri
Cahyo
2.Utusan dari kelompok
3.Mantan mahasiswa-I KKN Universitas Islam Indonesia,
Yogyakarta
4.Pusat Studi Minyak Atsiri Universitas Islam Indonesia
5.Griya Jati Rasa. Lembaga Pengkajian
dan Pemberdayaan Kreatifitas Bangsa untuk
Keadilan
dan Perdamaian.
Waktu dan
tempat
Sarasehanakan diselenggarakan pada,
Hari/tanggal
: Sabtu / 18 Oktober 2014
Pukul : 19.15 – 21.00 WIB
Tempat : Balai Dusun
Gabuk, Desa Giri Cahyo, Purwosari Gunung
Kidul
Agenda : Tentatif
terlampir paling terakhir
Penyelenggara:
- Pemerintah Desa Giri Cahyo
- Pusat Studi Minyak Atsiri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
- Griya Jati Rasa. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kreatifitas Bangsa untuk Keadilan dan Perdamaian
Penggagas
dan Pelaksana:
- Mantan Mahasiswa/I KKN Universitas Islam Indonesia menggagaskan program dan fundraising untuk penanaman Nilam di desa Giri Cahyo.
- Pemerintah desa Giri Cahyo mempersiapkan warga desa untuk terlibat dalam program penanaman Nilam.
- Griya Jati Rasa. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kreatifitas Bangsa untuk Keadilan dan Perdamaian, menggagaskan sarasehan ini sekaligus berfungsi merumuskan TOR Sarasehan, menghubungi berbagai narasumber dan berfungsi sebagai moderator pada pelaksanaannya dan juga menjadi salah satu narasumber.
|
|
|
1.
Narasumber
danTopik Bahasan:
1.1.
Bapak Dwiarsa M.Si, Ketua Pusat Studi Minyak Atsiri Universitas Islam Indonesia tentang “Tanaman Nilam sebagai minyakatsiri dan prospeknya dalam industri kimia”
1.2.
Wakil mantan mahasiswa/I KKN Universitas Islam Indonesia tentang “Membangun kewirausahaan dari lahan pertanian kepenyulingan “Nilam”.
1.3.
Kepala Urusan Perencanaan dan Pembangunan Desa Giri Cahyo tentang “Kesiapan warga Giri Cahyo dalam membudidayakan tanaman nilam, tantangan dan prospeknya”.
1.4.
Ibu Farsijana Adeney-Risakotta,Ph.D tentang “Pengawalan kebijakan industri masuk pedesaan yang memberikan keadilan dan perdamaian kepada masyarakat”
Agenda
Sarasehan:
Tentatif
1. Pembukaan:
MC
2. Kata
Sambutan: Kepala Desa Giri
Cahyo
3. Pengantar
Sarasehan: Moderator
4. Pembahas 1: Bapak
Dwiarsa, M.Si
5. Pembahas
2: Kepala Urusan
Perencanaan dan Pembangunan
Desa Giri
Cahyo
6. Pembahas 3
: Wakil mantan
mahasiswa KKN Universitas Islam Indonesia
7. Pembahas 4
: Ibu Farsijana Adeney – Risakotta, Ph.D
8. Tanya
Jawab: Moderator
9. Kesimpulan:
Moderator
10. Penutup:
MC
|
@Griya Jati Rasa/TOR/Sarasehan
Budidaya Nilam
Subscribe to:
Posts (Atom)